Selasa, 02 September 2014

Inflasi, Ketahanan Pangan dan Kebijakan Pemerintah


Banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui makna inflasi, walaupun istilah inflasi pernah dipelajari ketika kita duduk dibangku SMA (terutama bagi yang pernah belajar ilmu ekonomi), namun tampaknya ilmu keuangan tentang inflasi itu tidak meresap kealam pikiran kebanyakan masyarakat Indonesia. Inflasi menurut kamus bahasa Indonesia berarti ‘kemerosotan nilai uang karena banyak dan cepatnya uang kertas beredar sehingga menyebabkan naiknya harga-harga barang’ atau secara sederhanya nilai mata uang tersebut menjadi turun. Dalam hal ini, saya sama sekali tidak setuju kalau berlebihnya kuantitas uang kertas yang dicetak merupakan penyebab utama terjadinya inflasi, terlebih ketika saya membaca beberapa artikel ekonomi yang banyak ditulis oleh media asing.
Inflasi memang menyebabkan nilai mata uang menjadi turun. Saya beri ilustrasi seperti ini, apa hal yang bisa anda beli dengan uang 10.000 dolar Amerika jika di bandingkan dengan hal yang bisa anda beli dengan uang 10.000 rupiah? Mari saya bantu jawab, jika anda punya uang 10.000 dolar Amerika anda bisa membeli baju-baju mewah untuk satu keluarga, perhiasan, beberapa sepeda motor atau anda bisa merenovasi rumah anda agar menjadi lebih besar. Namun, jika anda punya uang hanya 10.000 rupiah, saya kira untuk jajan anak anda satu hari tidak cukup bukan?
Inilah alasan tujuan tulisan ini saya buat. Saya akui pengetahuan saya tentang ilmu ekonomi sekedar general saja. Namun yang saya harapkan adalah upaya kita semua agar  bisa membuka pikiran kita sebagai rakyat Indonesia terutama tentang salah satu masalah keuangan yaitu inflasi, karena saya setuju dengan salah satu Pendapat Presiden terbaik Amerika, John F Kennedy: “Jangan tanyakan apa yang negara perbuat  untuk kamu, tanyakan apa yang kamu perbuat untuk negara”. Saya harap tulisan ini membuka mata kita tentang kesadaran membangun bangsa terutama mengenai keuangan.  Baiklah, kita kembali ke pokok  yang perlu dibahas yaitu tentang Inflasi, ketahanan pangan dan kebijakan pemerintah.
Permasalahan Inflasi sesungguhnya tidak dihadapi oleh Negara Indonesia saja, beberapa negara lain bahkan mengalami  inflasi yang sangat ekstrim pada nilai mata uangnya (anggap saja dibandingkan dengan nilai mata uang dollar Amerika). Namun tak bisa dipungkiri bahwa mata uang Indonesia dianggap sebagai mata uang sampah (istilah ‘sampah’ ini saya kutip dari salah satu artikel di Internet), dikatakan sampah karena angkanya tinggi namun nilainya teramat rendah. Satu dolar Amerika saja setara dengan lima digit mata uang rupiah.  Mencengangkan!!! Tapi saya yakin masih bisa diperbaiki. Salah satu cara terbaik untuk mengatasi Inflasi adalah meningkatkan ketahanan pangan.
Ketahanan pangan maksudnya ketersediaan pangan yang cukup dalam suatu masyarakat dalam kurun waktu yang panjang. Indonesia merupakan negara yang beruntung. Saya mengatakan beruntung karena Indonesia merupakan negara kepulauan dan tidak terlampau sulit mencari air (tidak seperti negara Afrika). Indonesia juga tidak mengalami perubahan musim yang ekstrem (4 musim seperti Jepang, Rusia, beberapa bagian negara Eropa, Amerika dan Australia). Kondisi kekurangan air dan jauhnya akses dari laut membuat banyak masyarakat Afrika yang kekurangan makan dan menyebabkan kematian. Terlebih lagi dengan rendahnya curah hujan sehingga menyulitkan pertanian berkembang disana. Sedangkan untuk negara yang diliputi 4 musim biasanya mengalami kesulitan dalam memperoleh makanan segar pada musim dingin, karena pertanian sangat sulit berkembang dibawah tumpukan salju (akhirnya, untuk memperoleh makanan harus diawetkan). Sekali lagi saya katakan Indonesia merupakan sebuah negara yang beruntung. Kita tidak mengalami keadaan kekeringan seperti di Afrika dan  tidak mengalami tumpukan salju tebal pada musim manapun. Terlebih lagi banyaknya pegunungan menjadi lahan subur untuk perkembangan agraris Indonesia. Namun sayangnya ini tidak dimanfaatkan penuh oleh masyarakatnya. Walaupun hasil pertanian Indonesia bisa dikatakan meningkat, tetapi tidak seimbang dengan peningkatan  jumlah penduduknya (ada lebih dari 250 juta jiwa yang perlu diberi makan). Ketidakseimbangan ini seakan-akan mendukung kebenaran teori Malthus: Jumlah populasi masyarakat meningkat seperti deret ukur sedangkan jumlah peningkatan pangan seperti deret hitung.
 Walaupun teori Mathus secara logika bisa dianggap benar, tetapi bukan berarti itu tak terbantahkan. Bukan manusia namanya jika tidak memanfaatkan akal. Perkembangan ilmu teknologi dibidang pangan (baik pertanian, perternakan dan perikanan) mampu meningkatkan hasil produksi berlipat ganda dari pada hasil upaya pangan konvensional. Buktinya ada beberapa negara yang mampu mengekspor hasil pertaniannya walaupun populasi di negaranya termasuk yang terbanyak di dunia, namun sayangnya itu bukanlah negara Indonesia. Malah, Indonesia merupakan ‘target’ ekspor negara-negara tersebut. Banyaknya jumlah masyarakat sedangkan sedikitnya pasokan makanan menyebabkan harga terus melambung naik. Inilah salah satu hal yang menyebabkan inflasi. Nilai uang semakin rendah, uang sepuluh ribu yang dulunya bisa membeli banyak bahan makanan, tapi sekarang untuk membeli sekilo beras pun tidak bisa. Masyarakat semakin resah. Akhirnya untuk menghindari peningkatan harga yang tinggi, pemerintah mengambil kebijakan impor bahan baku makanan (dengan tujuan jika stok banyak maka harga akan kembali stabil), mulai dari mengimpor makanan pokok sampai mengimpor daging sapi yang akhirnya berujung di KPK.
Kebijakan pemerintah tidak bisa selalu kita anggap buruk. Saya yakin dan percaya apapun yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah upaya untuk membantu seluruh lapisan masyarakat dan menjawab tuntutan mereka terutama pada bidang ekonomi. Bahkan saya mengakui kehebatan mereka terutama dalam memenangkan pemilu, itu merupakan hal yang hebat bisa menarik banyak jumlah masyarakat untuk mencoblos gambar mereka. Namun, sepertinya mereka masih memerlukan ide tambahan dari lapisan masyarakat untuk menjawab persoalan yang ada terutama terhadap bidang yang tidak dikuasainya. Salah satu kebijakan yang akan dianalisa disini yaitu tentang kebijakan penentuan UMR (upah minimum regional).
UMR merupakan tuntutan buruh yang ditentukan oleh pemerintah dan disahkan oleh gubernur. Walaupun penetuan UMR berasal dari analisa harga kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya, jika penentuan UMR yang terlampau tinggi maka akan mempengaruhi inflasi. Saya berikan ilustrasi sebagai berikut, ketika ada seorang gubernur menetapkan UMR misalnya dari yang sebelumnya Rp. 1,5 juta menjadi Rp.2 juta maka selisih kenaikannya adalah Rp. 500rb. Jika Perusahaan tersebut memiliki 100 orang karyawan maka tambahan jumlah yang perlu dikeluarkan perusahaan adalah 100 orang x Rp. 500rb = Rp. 50 juta. Maka untuk menstabilkan pengeluaran tersebut kebanyakan perusahaan mengambil keputusan menaikkan harga hasil produksinya. Makanya tidak mengejutkan jika UMR naik maka harga barang-barang juga ikutan naik. Lagi-lagi ini mengena kearah inflasi. Saya kasih contoh, tahun lalu saya sering kesupermarket untuk membeli sebungkus biskuit, biasanya harganya sekitar 5 ribuan, namun setelah penetapan kenaikan UMR, sebulan kemudian hampir semua produk yang dijual disupermarket itu mengalami kenaikan. Biskuit yang biasanya saya beli dengan harga sekitar 5ribuan harga kini sudah menjadi 7ribuan. Saya tidak terkejut karena saya yakin pemilik supermarket menaikkan harga karena gaji karyawannya naik, dan modal barang-barang yang jualnya juga naik karena karyawan dimana produk itu diproduksi juga mengalami kenaikan gaji. Namun sayangnya kenaikan ini seolah tidak adil. Tidak semua lapisan masyarakat bekerja di perusahaan atau yang sejenisnya, malahan banyak dari mereka yang berwiraswasta dan tidak ada mengalami peningkatan gaji tetap tetapi ikut merasakan dampak inflasi akibat kebijakan pemerintah tersebut. Belum lagi para orang tua yang memiliki anak yang masih bersekolah malah menuntut kenaikan jajan karena harga jajanan disekolahnya pun mengalami kenaikan. Akhirnya, akibat dampak inflasi ini, anak-anak Indonesia saja sudah merasakannya.
Hal yang lain yang mempengaruhi inflasi adalah kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Tidak bisa dipungkiri bahwa kenaikan harga BBM dapat mengakibatkan kenaikan harga barang karena alur distribusi hampir keseluruhan barang tergantung oleh transportasi, sedangkan transportasi pasti tergantung oleh bahan bakar. Bahkan kenaikan harga bahan bakar pun bisa menaikkan tarif listrik, kenaikkan harga yang saling berkaitan ini tentu saja menekan nilai rupiah dan meresahkan masyarakat. Terlebih lagi, BBM berasal dari sumber daya yang ‘tidak bisa diperbaharui’. Maksud dari kata ‘tidak bisa diperbaharui’ ini adalah karena bahan bakar berasal dari endapan fosil zaman purba dalam perut bumi yang yang proses pembuatannya memakan waktu hingga jutaan tahun (menurut teori yang dipercaya oleh ahli). Sehingga,  tingginya tuntutan terhadap minyak bumi yang semakin hari semakin naik sedangkan pasokan di dalam perut bumi semakin menipis menjadikan harga BBM melambung tanpa mengenal toleransi, bahkan di beberapa negara lain harga minyak bensin saja sekitar 20 ribu rupiah per liternya. Walaupun para ahli sudah berupaya melakukan riset energi alternatif (mulai dari kotoran sapi, ampas tebu, dll) tapi tampaknya belum ada yang dianggap penghasil energi sekuat energi yang dihasilkan minyak bumi, terlebih lagi sebagai energi yang cukup untuk memasok kebutuhan milyaran penduduk dunia. Sekalipun ada, energi alternatif yang diprediksi dan sedang diteliti oleh para ilmuwan negara maju—yakni fuel cell—tetapi tetap saja belum bisa menggantikan peran BBM yang stoknya kian hari kian menipis.
Sebenarnya banyak hal lain yang menyebabkan inflasi, bahkan saya pernah membaca ada sebuah negara yang mengalami inflasi hingga beberapa persen hanya karena kenaikan harga rokok (bisa jadi karena tingginya angka perokok dinegara tersebut). Ada juga hal lain yang mendongkrak inflasi misalnya gagal panen, bencana alam, perperangan, kelangkaan bahan baku dan lain sebagainya. Selain itu, tren dimasyarakat Indonesia yang malu menjadi ahli pertanian menjadikan universitas pertanian sedikit diminati (tidak seperti zaman presiden Soeharto yang berhasil mengangkat pertanian Indonesia bahkan ada lagu yang populer diciptakan untuk profesi tani yang sudah tidak diajarkan di sekolahan pada zaman sekarang ini ). Masyarakat lebih suka anak mereka menjadi pegawai atau profesi kantoran lainnya. Padahal, jika dikaji secara pendapatan finansial, banyak juga para petani yang pendapatannya lebih tinggi dari pada para karyawan/pegawai.  Dan satu hal yang harus dipahami adalah bahwa semua makhluk tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama tanpa makanan, jangan kan manusia bahkan binatang pun juga tidak akan bisa.
Mungkin sebagian besar anda mengatakan bahwa inflasi bukan urusan anda, atau bisa jadi anda mengatakan bahwa permasalah inflasi itu sepenuhnya adalah tanggung jawab pemerintah. Tapi yang perlu anda ingat seandaikan anda menyimpan uang dibank hari ini sebanyak 50 juta rupiah, bisa dibayangkan bahwa uang yang anda disimpan itu nilainya sudah tidak akan sama lagi sepuluh tahun kemudian. Kenapa kita harus peduli? Karena kita semua ingin menyimpan uang untuk masa tua, namun alangkah menyedihkan jika uang yang selama ini dengan susah payah dikumpulkan  pada akhirnya nilainya akan semakin menurun. Terlebih lagi, jika pemerintah gagal menekan lajunya inflasi, maka dengan rendahnya nilai simpanan anda maka akan sangat mengecewakan anda juga nantinya. Jadi, sebelum hal itu terjadi pada kita semua, ada baiknya jika kita mendorong dan mendukung upaya pemerintah dalam hal peningkatan hasil pangan, stabilitas ekonomi serta kritis atau memberi solusi dan saran yang terbaik kepada para pemerintah kita, untuk kita, masa depan kita dan masa depan anak cucu kita. Sehingga dengan keseimbangan nilai mata uang diharapkan akan menyembangkan ekonomi di kehidupan masyarakat kita.

Ditulis di Pekanbaru, 21 Juli 2014.



Revolusi Pendidikan


Pendidikan merupakan proses pembelajaran  yang mana mengupayakan pentrasferan ilmu dari seorang guru kepada para siswa didiknya. Semenjak gaagasan dari  Bapak presiden SBY dan dilaksanakan sepenuhnya dibawah kementrian Pendidikan, perubahan kemajuan tahap demi tahap di bisang pendidikan senantiasa di upayakan. Pendidikan yang dulunya kurang menjadi perhatian kini mulai di minati, terbukti dengan meledaknya jumlah mahasiswa yang lebih memilih untuk mengambil jurusan keguruan karena dinilai memiliki pendapatan finansial yang lebih mapan. Selain itu, revolusi pendidikan indonesia terutama sistem pengajaran dan pembelajaran mulai diwujudkan dengan berbagai perubahan sistem dan manajemen dalam penerapannya.
Revolusi sebenarnya bermakna perubahan yang mendasar disuatu bidang. Kata ini tentu saja hampir mirip maknanya dengan kata evolusi. Perbedaan antara revolusi dan evolusi yakni revolusi berubah dengan lebih cepat. Lebih cepat disini bukan berarti dalam jangaukan menit atau jam, tetapi dalam kurun waktu beberapa tahun hingga beberapa puluh tahun. Sedangkan istilah evolusi  dimaknai perubahan hingga ribuan tahun bahkan jutaan tahun. Misalnya dalam istilah biologi evolusi manusia purba dari pithecanthropus Erectus menjadi manusia sesungguhnya (dalam hal ini penulis hanya memberi contoh istilah, bukan bermaksud membenarkan dengan teori Darwin ini).
Sedangkan istilah revolusi lebih sering didengar dalam sejarah manusia yang sumbernya  lebih bisa dipercaya. Misalnya revolusi diInggris dan revolusi di Amerika yang kemudian diikuti oleh negara-negara disekitarnya. Revolusi ini konon terjadi semenjak ditemukannya mesin uap yang notebene  menjadi awalnya pencetusan penemuan teknologi yang mana memiliki fungsi sebagai alat yang mempermudah urusan manusia. Semenjak itu, banyak orang di negara sekitar berlomba-lomba untuk menemukan alat-alat teknologi canggih, mulai dari telepon, radio,  televisi, mobil, kendraan bermotor, mesin-mesin, teknologi nuklir bahkan komputer yang merubah kehidupan masyarakat disekitarnya secara drastis. Penemuan-penemuan ini tentu saja mempengaruhi kemajuan bangsanya. Walaupun pernah kemudian persaingan antar negara berakhir dengan perperangan untuk menunjukkan seberapa besar kekuatan dan kecerdasan orang-orang di negara masing-masing, namun pada akhirnya semua pihak sadar bahwa dampak dari perperangan menyabkan terenggutnya nyawa banyak jiwa manusia dan kerusakan bangunan bahkan lingkungan akibat pengrusakan selama perperangan.
Zaman sekarang sudah tidak zaman lagi adu kekuatan dalam perperangan. Walaupun masih ada segelintir negara yang masih bersiteru. Namun, banyak negara lain lebih memutuskan untuk menjalin perdamaian dengan alasan kemanusiaan dan rindunya akan ketentraman. Namun bukan berarti antar negara bebas dari persaingan. Persaingan adu ‘otak’ mulai gencar didunia. Persaingan ini bukan mengenai kalah atau menang, tetapi seberapa hebat sebuah negara memajukkan dirinya. Walaupun pada dasarnya negara itu dikendalikan oleh seorang pemimpin yang dianggap paling berkuasa, tetapi tetap saja sumber daya manusia yang ada dinegara tersebutlah yang akan menentukan apakah negara itu akan maju, stagnan atau malah mundur.
Sumber daya manusia lagi-lagi disebut sebagai  yang menentukan kemajuan bangsa. Tetapi bagaimana cara meningkatkan sumber daya manusia terutama manusia dalam jumlah yang banyak di sebuah negara? Jawabannya pasti semua orang sepakat yakni PENDIDIKAN.
Pendidikan merupakan penyaluran ilmu dari beberapa orang guru yang terdiri dari beberapa bidang atau mata pelajaran kepada para muridnya. Dengan demikian, diharapkan para murid menguasai berbagai ilmu yang disalurkan oleh guru mereka sekaligus. Misalnya seorang guru fisika ahli dalam bidang fisika, kemudian guru kimia ahli dalam bidang kimia, guru ekonomi mahir dalam ilmu ekonomi, dan para guru lain ahli dalam bidangnya masing-masing, sehingga para murid yang belajar dari para guru tersebut diharapkan nantinya akan ahli dalam bidang fisika, kimia, biologi, matematika, ekonomi, geografi, sejarah dan ilmu lainnya sekaligus. Nah, dengan begini kualitas sumber daya manusia menjadi lebih terangkat, karena satu orang saja memahami berbagai cabang ilmu.
Namun sayangnya, proses pendalaman berbagai bidang ilmu itu memerlukan waktu yang lama. Bisa dikatakan sangat sulit sekali bagi semua siswa untuk mendalami semua bidang ilmu, karena para siswa akan memasuki kehidupan dimana dituntut untuk produktif (diusia sekitar angka 20 puluhan). Lagipula, pada usia ini, seseorang sudah mulai berpikir tentang masa depan seperti membangun keluarga dan mencari nafkah. Banyak juga alumni siswa SMA yang tidak melanjutkan pendidikan yang lebih khusus di universitas atas dasar kebutuhan untuk membantu orang tua mencari nafkah. Inilah yang menjadi persoalan yang wajib dipecahkan dalam revolusi pendidikan selanjutnya.
Selanjutnya, seperti yang diketahui bahwa cita-cita bangsa Indonesia sejak dahulu adalah menjadikan negara sejahtera, aman dan tentram. Kata ‘sejahtera’ dekat maknanya dengan perekonomian yang baik. Sedangkan ‘aman dan tentram’ lebih dekat maknanya dengan rendahnya angka kriminalitas disuatu wilayah tersebut. Walaupun banyak pendapat ahli yang mengatakan bahwa kriminalitas memilki hubungan yang erat terhadap kemiskinan (karena miskin terpaksa berbuat kejahatan kriminal seperti mencuri, merampok dll), itu berarti bahwa kesejahteraan juga mempengaruhi keamanan dan ketentraman.
Sekarang mari kita lihat sebuah negara yang dinobatkan sebagai negara yang paling rendah angka kriminalitasnya, yaitu negara Finlandia (terletak di Eropa Utara). Negara ini ternyata juga memiliki angka kualitas pendidikan yang termasuk salah satu terbaik dunia.  Negara ini juga termasuk dalam 10 besar negara paling sejahtera di dunia. Ini menujukkan bukti bahwa kualitas pendidikan memiliki peranan yang kuat terhadap kesejahteraan dan keamanan negrinya.
Namun, banyak kalangan skeptis yang mengatakan negara Finlandia dan negara lainnya (negara maju lainnya seperti singapura, jepang, korea, german, swedia, UK dan negara maju lainnya ) menjadi negara yang bisa maju karena jumlah penduduknya yang lebih sedikit (penduduk Finlandia sekitar 5 juta jiwa) dan wilayahnya yang lebih sempit ( jika dibandingakan dengan  Indonesia). Namun, kalangan skeptis menilai hal itu wajar karena jika dibandingkan dengan jumlah penduduk saja antara Indonesia dan Finlandia adalah 1:50 (jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa).
Anggapan ini sebenarnya tidak bisa dijadikan landasan, karena Amerika Serikat juga memiliki penduduk yang banyak (lebih dari 300 juta jiwa) dan wilayah yang luas dari Indonesia, namun masih mampu membawa negaranya sebagai salah satu negara yang termaju didunia.  Bahkan RRC  yang memiliki penduduk terbanyak didunia (sekitar 1,3 milyar jiwa), juga hampir mendapat peringkat sebagai salah satu negara yang maju didunia. Padahal,  jumlah penduduk Cina 5 kali jauh lebih banyak dari penduduk Indonesia. Malahan, banyak negara paling miskin dan terbelakang di dunia memiliki jumlah penduduk dan wilayah yang lebih kecil jika dibandingkan Indonesia.
Jadi, sebenarnya apa yang mempengaruhi kemajuan suatu negara? Jawaban yang paling tepat tentu saja sumber daya manusia. Lalu, bagaimana seharusnya negara berupaya untuk meningkatkan sumber daya manusianya? Jawabannya tentu saja Pendidikan. Lagi-lagi pendidikan menjadi pondasi untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia menuju sejahtera, aman dan tentram. Alasan mengapa sebuah negara harus menjadi negara aman dan tentram tentu saja karena alasan terhadap anggapan bahwa tiada gunanya rakyat sejahtera dengan harta yang berlimpah, namun merasa tidak tentram dan aman karena tingginya kriminalitas, setiap hari rakyat akan ketakutan untuk hidup dilingkungan masyarakat. Maka inilah yang menjadi tugas terberat dalam pendidikan Indonesia yaitu bagaimana menciptakan masyakat yang memiliki SDM berkualitas namun tetap menjunjung nilai keamanan dan ketentraman negaranya. Selain itu, pendidikan juga diharapkan mampu menanamkan nilai karakter baik dalam setiap alam pikiran para siswanya yang tercermin dari prilaku sehari-hari sesuai dengan kurikullum 2013.
Selanjutnya, pendidikan sebaiknya juga tidak hanya berupa teori saja, tetapi lebih menekankan pada pemahaman praktis dilapangan  dan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah yang terjadi dimasyarakat. Para siswa harus ditanamkan pentingnya menuntut ilmu, karena manusia yang berilmu akan mampu mengangkat derajat dirinya dan bangsanya. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu”. Dengan demikian, diharapkan Revolusi pendidikan di Indonesia akan melahirkan manusia-manusia yang berkualitas SDM  tinggi yang mampu bersaing dengan negara manapun didunia.



Selasa, 19 November 2013

Komitmen vs. Keinginan

Pernahkan anda mempunyai komitmen?

Pernahkan anda mempunyai keinginan?

Semua orang pasti pernah mempunyai keinginan, namun apakah semua orang mempunyai komitmen?

Makna dari kata komitmen dan keinginan diilustrasikan dengan contoh berikut:
1. Keinginan
    Anda mempuyai kelas di kampus atau mempunyai janji dengan seseorang. Tiba-tiba hujan turun deras, maka anda pun tidak menghadiri kelas tersebut atau mengirim pesan terhadap teman anda bahwa anda tidak jadi datang. Sekedar keinginan biasanya bisa ditepis oleh hambatan.

2. Komitmen
    Anda mempunyai kelas di kampus atau pelatihan di gedung tertentu, tetapi anda berkomitmen untuk belajar dan berkomitmen untuk menguasai ilmu tersebut. Namun, ketika anda hendak berangkat, tiba-tiba hujan turun deras, maka anda tetap berfikir bagaimana caranya tiba disana. Anda menelpon taksi atau meminta saudara/teman  mengantarkan anda kesana. Kalau pun tidak ada, anda memasang mantel hujan anda dan pergi kesana. Kalaupun mantel hujan tidak ada, anda akan mengambil payung anda sambil menunggu bis kemudian tiba disana, sekalipun payung tidak ada, anda akan meminjam payung tetangga. Begitu juga jika hujan deras terjadi saat anda ingin menjumpai sesorang, anda bagaimanapun akan terus mencari cara agar bertemu dengan orang tersebut. Namun, untuk situasi tertentu terkadang harus ada yang wajib anda pertimbangkan, yaitu dengan menunda komitmen anda tersebut, itu pun kalau situasi sangat mendesak, misalnya anda baru saja operasi di rumah sakit, sedangkan  keadaan anda masih kritis, disarankan tidak melaksanakan komitmen anda jika ingin bertemu seseorang. Pertemuan bisa ditunda atau meminta orang tersebut menemui anda.

Nah, sekarang anda coba fikirkan bersama pasangan anda, apakah anda mempunyai komitmen atau hanya sekedar keinginan untuk menjalani hubungan harmonis sampai usia menua, karena dalam hubungan pasti ada beberapa goncangan. Jika hanya keinginan, mungkin hubungan anda tak akan lama, sebaiknya anda sepakat untuk memiliki komitmen. Ketika perselisihan terjadi, kemudian anda dan pasangan ingat akan komitmen sebelumnya, maka anda akan segera mencari solusi atau salah satu berusaha mengalah, demi terciptanya komitmen hubungan harmonis sampai masa yang akan datang.

Selamat berkomitmen! Semoga tetap teguh bependirian.

Senin, 08 Juli 2013

Menyikapi Perasaan Bahagia, Bahagiakah anda?

Semua orang ingin merasakan kebahagian. Baik tua muda bahkan anak-anak sekalipun juga ingin merasakan kebahagian. Namun definisi kebahagiaan itu tidak bisa disamaratakan. Seorang anak bahagia jika dipeluk oleh ibunya. Seorang ayah merasa bahagia jika berhasil mendapatkan rezeki untuk menafkahi keluarganya. Seorang ibu merasa bahagia jika suami dan anak-anaknya sehat, juga sayang dan peduli padanya. Semua itu definisi bahagia dalam keluarga.

Kata bahagia hampir mirip maknanya dengan kata senang. Kata senang biasanya yang untuk hal baik yang diperoleh diluar hubungan keluarga. Misalnya seorang murid merasa senang jika mendapatkan hasil ulangan tinggi. Seorang altlet merasa senang jika ia menang pertandingan. Seorang karyawan merasa senang jika mendapatkan bonus dari perusahaannya. Seorang bos merasa senang jika hasil penjualan meningkat. Baik senang maupun bahagia selalu menjadi impian bagi setiap orang.

Namun, hidup itu tak pernah selau indah. Pengaruh emosi yang buruk juga menjadi rendahnya tingkat kebahagiaan atau kesenangan seseorang. Pengaruh lingkungan serta film juga mempengaruhi tingkat kebahagiaan tersebut.  Misalnya rasa cemburu, iri, marah, buruk sangka, dengki menjadi penyakit hati yang mengurangi tingkat kebahagiaan. Sebagai contoh, anda berasal dari keluarga yang bahagia, tapi anda sedang putus cinta. Maka yang anda rasakan adalah tidak bahagia. Namun jika anda mempunyai hubungan cinta, tapi anda selalu cemburu buta, anda juga tidak akan merasa bahagia. Namun, beda halnya jika anda mempunyai hubungan cinta dan tidak diperlakukan baik dengan pasangan anda, anda sering mendapat perlakuan kasar, lalu anda putuskan hubungan cinta dengannya, setelah putus anda merasa tidak tertekan dan lebih bahagia.

Namun ada juga, pasangan yang hidup pas-pasan. Tidak cantik dan pasangannya tidak ganteng. Tapi saling mendukung dan perhatian. Tinggal di rumah kecil namun saling menghargai. Dan mereka merasa bahagia. Jadi tingkat kebahagian itu anda yang merasakan tergantung pengaruh lingkungan dan kejadian yang anda alami serta bahaimana cara anda menyikapinya.