Banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui makna inflasi,
walaupun istilah inflasi pernah dipelajari ketika kita duduk dibangku SMA
(terutama bagi yang pernah belajar ilmu ekonomi), namun tampaknya ilmu keuangan
tentang inflasi itu tidak meresap kealam pikiran kebanyakan masyarakat
Indonesia. Inflasi menurut kamus bahasa Indonesia berarti ‘kemerosotan nilai
uang karena banyak dan cepatnya uang kertas beredar sehingga menyebabkan
naiknya harga-harga barang’ atau secara sederhanya nilai mata uang tersebut
menjadi turun. Dalam hal ini, saya sama sekali tidak setuju kalau berlebihnya
kuantitas uang kertas yang dicetak merupakan penyebab utama terjadinya inflasi,
terlebih ketika saya membaca beberapa artikel ekonomi yang banyak ditulis oleh
media asing.
Inflasi memang menyebabkan nilai mata uang menjadi turun. Saya beri
ilustrasi seperti ini, apa hal yang bisa anda beli dengan uang 10.000 dolar Amerika
jika di bandingkan dengan hal yang bisa anda beli dengan uang 10.000 rupiah?
Mari saya bantu jawab, jika anda punya uang 10.000 dolar Amerika anda bisa
membeli baju-baju mewah untuk satu keluarga, perhiasan, beberapa sepeda motor
atau anda bisa merenovasi rumah anda agar menjadi lebih besar. Namun, jika anda
punya uang hanya 10.000 rupiah, saya kira untuk jajan anak anda satu hari tidak
cukup bukan?
Inilah alasan tujuan tulisan ini saya buat. Saya akui pengetahuan
saya tentang ilmu ekonomi sekedar general saja. Namun yang saya harapkan
adalah upaya kita semua agar bisa
membuka pikiran kita sebagai rakyat Indonesia terutama tentang salah satu
masalah keuangan yaitu inflasi, karena saya setuju dengan salah satu Pendapat
Presiden terbaik Amerika, John F Kennedy: “Jangan tanyakan apa yang negara
perbuat untuk kamu, tanyakan apa yang
kamu perbuat untuk negara”. Saya harap tulisan ini membuka mata kita tentang
kesadaran membangun bangsa terutama mengenai keuangan. Baiklah, kita kembali ke pokok yang perlu dibahas yaitu tentang Inflasi,
ketahanan pangan dan kebijakan pemerintah.
Permasalahan Inflasi sesungguhnya tidak dihadapi oleh Negara
Indonesia saja, beberapa negara lain bahkan mengalami inflasi yang sangat ekstrim pada nilai mata
uangnya (anggap saja dibandingkan dengan nilai mata uang dollar Amerika). Namun
tak bisa dipungkiri bahwa mata uang Indonesia dianggap sebagai mata uang sampah
(istilah ‘sampah’ ini saya kutip dari salah satu artikel di Internet),
dikatakan sampah karena angkanya tinggi namun nilainya teramat rendah. Satu
dolar Amerika saja setara dengan lima digit mata uang rupiah. Mencengangkan!!! Tapi saya yakin masih bisa
diperbaiki. Salah satu cara terbaik untuk mengatasi Inflasi adalah meningkatkan
ketahanan pangan.
Ketahanan pangan maksudnya ketersediaan pangan yang cukup dalam
suatu masyarakat dalam kurun waktu yang panjang. Indonesia merupakan negara
yang beruntung. Saya mengatakan beruntung karena Indonesia merupakan negara
kepulauan dan tidak terlampau sulit mencari air (tidak seperti negara Afrika).
Indonesia juga tidak mengalami perubahan musim yang ekstrem (4 musim seperti
Jepang, Rusia, beberapa bagian negara Eropa, Amerika dan Australia). Kondisi
kekurangan air dan jauhnya akses dari laut membuat banyak masyarakat Afrika
yang kekurangan makan dan menyebabkan kematian. Terlebih lagi dengan rendahnya
curah hujan sehingga menyulitkan pertanian berkembang disana. Sedangkan untuk
negara yang diliputi 4 musim biasanya mengalami kesulitan dalam memperoleh
makanan segar pada musim dingin, karena pertanian sangat sulit berkembang
dibawah tumpukan salju (akhirnya, untuk memperoleh makanan harus diawetkan).
Sekali lagi saya katakan Indonesia merupakan sebuah negara yang beruntung. Kita
tidak mengalami keadaan kekeringan seperti di Afrika dan tidak mengalami tumpukan salju tebal pada
musim manapun. Terlebih lagi banyaknya pegunungan menjadi lahan subur untuk
perkembangan agraris Indonesia. Namun sayangnya ini tidak dimanfaatkan penuh
oleh masyarakatnya. Walaupun hasil pertanian Indonesia bisa dikatakan
meningkat, tetapi tidak seimbang dengan peningkatan jumlah penduduknya (ada lebih dari 250 juta
jiwa yang perlu diberi makan). Ketidakseimbangan ini seakan-akan mendukung
kebenaran teori Malthus: Jumlah populasi masyarakat meningkat seperti deret
ukur sedangkan jumlah peningkatan pangan seperti deret hitung.
Walaupun teori Mathus secara
logika bisa dianggap benar, tetapi bukan berarti itu tak terbantahkan. Bukan
manusia namanya jika tidak memanfaatkan akal. Perkembangan ilmu teknologi
dibidang pangan (baik pertanian, perternakan dan perikanan) mampu meningkatkan
hasil produksi berlipat ganda dari pada hasil upaya pangan konvensional.
Buktinya ada beberapa negara yang mampu mengekspor hasil pertaniannya walaupun
populasi di negaranya termasuk yang terbanyak di dunia, namun sayangnya itu
bukanlah negara Indonesia. Malah, Indonesia merupakan ‘target’ ekspor
negara-negara tersebut. Banyaknya jumlah masyarakat sedangkan sedikitnya
pasokan makanan menyebabkan harga terus melambung naik. Inilah salah satu hal
yang menyebabkan inflasi. Nilai uang semakin rendah, uang sepuluh ribu yang
dulunya bisa membeli banyak bahan makanan, tapi sekarang untuk membeli sekilo
beras pun tidak bisa. Masyarakat semakin resah. Akhirnya untuk menghindari
peningkatan harga yang tinggi, pemerintah mengambil kebijakan impor bahan baku
makanan (dengan tujuan jika stok banyak maka harga akan kembali stabil), mulai
dari mengimpor makanan pokok sampai mengimpor daging sapi yang akhirnya
berujung di KPK.
Kebijakan pemerintah tidak bisa selalu kita anggap buruk. Saya
yakin dan percaya apapun yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah upaya untuk
membantu seluruh lapisan masyarakat dan menjawab tuntutan mereka terutama pada
bidang ekonomi. Bahkan saya mengakui kehebatan mereka terutama dalam
memenangkan pemilu, itu merupakan hal yang hebat bisa menarik banyak jumlah
masyarakat untuk mencoblos gambar mereka. Namun, sepertinya mereka masih
memerlukan ide tambahan dari lapisan masyarakat untuk menjawab persoalan yang
ada terutama terhadap bidang yang tidak dikuasainya. Salah satu kebijakan yang
akan dianalisa disini yaitu tentang kebijakan penentuan UMR (upah minimum
regional).
UMR merupakan tuntutan buruh yang ditentukan oleh pemerintah dan disahkan
oleh gubernur. Walaupun penetuan UMR berasal dari analisa harga kebutuhan pokok
dan kebutuhan lainnya, jika penentuan UMR yang terlampau tinggi maka akan
mempengaruhi inflasi. Saya berikan ilustrasi sebagai berikut, ketika ada seorang
gubernur menetapkan UMR misalnya dari yang sebelumnya Rp. 1,5 juta menjadi Rp.2
juta maka selisih kenaikannya adalah Rp. 500rb. Jika Perusahaan tersebut memiliki
100 orang karyawan maka tambahan jumlah yang perlu dikeluarkan perusahaan
adalah 100 orang x Rp. 500rb = Rp. 50 juta. Maka untuk menstabilkan pengeluaran
tersebut kebanyakan perusahaan mengambil keputusan menaikkan harga hasil
produksinya. Makanya tidak mengejutkan jika UMR naik maka harga barang-barang
juga ikutan naik. Lagi-lagi ini mengena kearah inflasi. Saya kasih contoh,
tahun lalu saya sering kesupermarket untuk membeli sebungkus biskuit, biasanya
harganya sekitar 5 ribuan, namun setelah penetapan kenaikan UMR, sebulan
kemudian hampir semua produk yang dijual disupermarket itu mengalami kenaikan.
Biskuit yang biasanya saya beli dengan harga sekitar 5ribuan harga kini sudah
menjadi 7ribuan. Saya tidak terkejut karena saya yakin pemilik supermarket
menaikkan harga karena gaji karyawannya naik, dan modal barang-barang yang
jualnya juga naik karena karyawan dimana produk itu diproduksi juga mengalami
kenaikan gaji. Namun sayangnya kenaikan ini seolah tidak adil. Tidak semua
lapisan masyarakat bekerja di perusahaan atau yang sejenisnya, malahan banyak
dari mereka yang berwiraswasta dan tidak ada mengalami peningkatan gaji tetap
tetapi ikut merasakan dampak inflasi akibat kebijakan pemerintah tersebut.
Belum lagi para orang tua yang memiliki anak yang masih bersekolah malah
menuntut kenaikan jajan karena harga jajanan disekolahnya pun mengalami
kenaikan. Akhirnya, akibat dampak inflasi ini, anak-anak Indonesia saja sudah
merasakannya.
Hal yang lain yang mempengaruhi inflasi adalah kenaikan bahan bakar
minyak (BBM). Tidak bisa dipungkiri bahwa kenaikan harga BBM dapat
mengakibatkan kenaikan harga barang karena alur distribusi hampir keseluruhan
barang tergantung oleh transportasi, sedangkan transportasi pasti tergantung
oleh bahan bakar. Bahkan kenaikan harga bahan bakar pun bisa menaikkan tarif
listrik, kenaikkan harga yang saling berkaitan ini tentu saja menekan nilai
rupiah dan meresahkan masyarakat. Terlebih lagi, BBM berasal dari sumber daya
yang ‘tidak bisa diperbaharui’. Maksud dari kata ‘tidak bisa diperbaharui’ ini
adalah karena bahan bakar berasal dari endapan fosil zaman purba dalam perut
bumi yang yang proses pembuatannya memakan waktu hingga jutaan tahun (menurut
teori yang dipercaya oleh ahli). Sehingga,
tingginya tuntutan terhadap minyak bumi yang semakin hari semakin naik
sedangkan pasokan di dalam perut bumi semakin menipis menjadikan harga BBM melambung
tanpa mengenal toleransi, bahkan di beberapa negara lain harga minyak bensin
saja sekitar 20 ribu rupiah per liternya. Walaupun para ahli sudah berupaya
melakukan riset energi alternatif (mulai dari kotoran sapi, ampas tebu, dll)
tapi tampaknya belum ada yang dianggap penghasil energi sekuat energi yang
dihasilkan minyak bumi, terlebih lagi sebagai energi yang cukup untuk memasok
kebutuhan milyaran penduduk dunia. Sekalipun ada, energi alternatif yang
diprediksi dan sedang diteliti oleh para ilmuwan negara maju—yakni fuel
cell—tetapi tetap saja belum bisa menggantikan peran BBM yang stoknya kian hari
kian menipis.
Sebenarnya banyak hal lain yang menyebabkan inflasi, bahkan saya
pernah membaca ada sebuah negara yang mengalami inflasi hingga beberapa persen
hanya karena kenaikan harga rokok (bisa jadi karena tingginya angka perokok
dinegara tersebut). Ada juga hal lain yang mendongkrak inflasi misalnya gagal
panen, bencana alam, perperangan, kelangkaan bahan baku dan lain sebagainya.
Selain itu, tren dimasyarakat Indonesia yang malu menjadi ahli pertanian
menjadikan universitas pertanian sedikit diminati (tidak seperti zaman presiden
Soeharto yang berhasil mengangkat pertanian Indonesia bahkan ada lagu yang
populer diciptakan untuk profesi tani yang sudah tidak diajarkan di sekolahan pada
zaman sekarang ini ). Masyarakat lebih suka anak mereka menjadi pegawai atau
profesi kantoran lainnya. Padahal, jika dikaji secara pendapatan finansial,
banyak juga para petani yang pendapatannya lebih tinggi dari pada para karyawan/pegawai.
Dan satu hal yang harus dipahami adalah
bahwa semua makhluk tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama tanpa makanan,
jangan kan manusia bahkan binatang pun juga tidak akan bisa.
Mungkin sebagian besar anda mengatakan bahwa inflasi bukan urusan
anda, atau bisa jadi anda mengatakan bahwa permasalah inflasi itu sepenuhnya
adalah tanggung jawab pemerintah. Tapi yang perlu anda ingat seandaikan anda
menyimpan uang dibank hari ini sebanyak 50 juta rupiah, bisa dibayangkan bahwa
uang yang anda disimpan itu nilainya sudah tidak akan sama lagi sepuluh tahun kemudian.
Kenapa kita harus peduli? Karena kita semua ingin menyimpan uang untuk masa
tua, namun alangkah menyedihkan jika uang yang selama ini dengan susah payah
dikumpulkan pada akhirnya nilainya akan
semakin menurun. Terlebih lagi, jika pemerintah gagal menekan lajunya inflasi,
maka dengan rendahnya nilai simpanan anda maka akan sangat mengecewakan anda
juga nantinya. Jadi, sebelum hal itu terjadi pada kita semua, ada baiknya jika
kita mendorong dan mendukung upaya pemerintah dalam hal peningkatan hasil
pangan, stabilitas ekonomi serta kritis atau memberi solusi dan saran yang
terbaik kepada para pemerintah kita, untuk kita, masa depan kita dan masa depan
anak cucu kita. Sehingga dengan keseimbangan nilai mata uang diharapkan akan
menyembangkan ekonomi di kehidupan masyarakat kita.
Ditulis di Pekanbaru, 21 Juli 2014.