Selasa, 02 September 2014

Inflasi, Ketahanan Pangan dan Kebijakan Pemerintah


Banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui makna inflasi, walaupun istilah inflasi pernah dipelajari ketika kita duduk dibangku SMA (terutama bagi yang pernah belajar ilmu ekonomi), namun tampaknya ilmu keuangan tentang inflasi itu tidak meresap kealam pikiran kebanyakan masyarakat Indonesia. Inflasi menurut kamus bahasa Indonesia berarti ‘kemerosotan nilai uang karena banyak dan cepatnya uang kertas beredar sehingga menyebabkan naiknya harga-harga barang’ atau secara sederhanya nilai mata uang tersebut menjadi turun. Dalam hal ini, saya sama sekali tidak setuju kalau berlebihnya kuantitas uang kertas yang dicetak merupakan penyebab utama terjadinya inflasi, terlebih ketika saya membaca beberapa artikel ekonomi yang banyak ditulis oleh media asing.
Inflasi memang menyebabkan nilai mata uang menjadi turun. Saya beri ilustrasi seperti ini, apa hal yang bisa anda beli dengan uang 10.000 dolar Amerika jika di bandingkan dengan hal yang bisa anda beli dengan uang 10.000 rupiah? Mari saya bantu jawab, jika anda punya uang 10.000 dolar Amerika anda bisa membeli baju-baju mewah untuk satu keluarga, perhiasan, beberapa sepeda motor atau anda bisa merenovasi rumah anda agar menjadi lebih besar. Namun, jika anda punya uang hanya 10.000 rupiah, saya kira untuk jajan anak anda satu hari tidak cukup bukan?
Inilah alasan tujuan tulisan ini saya buat. Saya akui pengetahuan saya tentang ilmu ekonomi sekedar general saja. Namun yang saya harapkan adalah upaya kita semua agar  bisa membuka pikiran kita sebagai rakyat Indonesia terutama tentang salah satu masalah keuangan yaitu inflasi, karena saya setuju dengan salah satu Pendapat Presiden terbaik Amerika, John F Kennedy: “Jangan tanyakan apa yang negara perbuat  untuk kamu, tanyakan apa yang kamu perbuat untuk negara”. Saya harap tulisan ini membuka mata kita tentang kesadaran membangun bangsa terutama mengenai keuangan.  Baiklah, kita kembali ke pokok  yang perlu dibahas yaitu tentang Inflasi, ketahanan pangan dan kebijakan pemerintah.
Permasalahan Inflasi sesungguhnya tidak dihadapi oleh Negara Indonesia saja, beberapa negara lain bahkan mengalami  inflasi yang sangat ekstrim pada nilai mata uangnya (anggap saja dibandingkan dengan nilai mata uang dollar Amerika). Namun tak bisa dipungkiri bahwa mata uang Indonesia dianggap sebagai mata uang sampah (istilah ‘sampah’ ini saya kutip dari salah satu artikel di Internet), dikatakan sampah karena angkanya tinggi namun nilainya teramat rendah. Satu dolar Amerika saja setara dengan lima digit mata uang rupiah.  Mencengangkan!!! Tapi saya yakin masih bisa diperbaiki. Salah satu cara terbaik untuk mengatasi Inflasi adalah meningkatkan ketahanan pangan.
Ketahanan pangan maksudnya ketersediaan pangan yang cukup dalam suatu masyarakat dalam kurun waktu yang panjang. Indonesia merupakan negara yang beruntung. Saya mengatakan beruntung karena Indonesia merupakan negara kepulauan dan tidak terlampau sulit mencari air (tidak seperti negara Afrika). Indonesia juga tidak mengalami perubahan musim yang ekstrem (4 musim seperti Jepang, Rusia, beberapa bagian negara Eropa, Amerika dan Australia). Kondisi kekurangan air dan jauhnya akses dari laut membuat banyak masyarakat Afrika yang kekurangan makan dan menyebabkan kematian. Terlebih lagi dengan rendahnya curah hujan sehingga menyulitkan pertanian berkembang disana. Sedangkan untuk negara yang diliputi 4 musim biasanya mengalami kesulitan dalam memperoleh makanan segar pada musim dingin, karena pertanian sangat sulit berkembang dibawah tumpukan salju (akhirnya, untuk memperoleh makanan harus diawetkan). Sekali lagi saya katakan Indonesia merupakan sebuah negara yang beruntung. Kita tidak mengalami keadaan kekeringan seperti di Afrika dan  tidak mengalami tumpukan salju tebal pada musim manapun. Terlebih lagi banyaknya pegunungan menjadi lahan subur untuk perkembangan agraris Indonesia. Namun sayangnya ini tidak dimanfaatkan penuh oleh masyarakatnya. Walaupun hasil pertanian Indonesia bisa dikatakan meningkat, tetapi tidak seimbang dengan peningkatan  jumlah penduduknya (ada lebih dari 250 juta jiwa yang perlu diberi makan). Ketidakseimbangan ini seakan-akan mendukung kebenaran teori Malthus: Jumlah populasi masyarakat meningkat seperti deret ukur sedangkan jumlah peningkatan pangan seperti deret hitung.
 Walaupun teori Mathus secara logika bisa dianggap benar, tetapi bukan berarti itu tak terbantahkan. Bukan manusia namanya jika tidak memanfaatkan akal. Perkembangan ilmu teknologi dibidang pangan (baik pertanian, perternakan dan perikanan) mampu meningkatkan hasil produksi berlipat ganda dari pada hasil upaya pangan konvensional. Buktinya ada beberapa negara yang mampu mengekspor hasil pertaniannya walaupun populasi di negaranya termasuk yang terbanyak di dunia, namun sayangnya itu bukanlah negara Indonesia. Malah, Indonesia merupakan ‘target’ ekspor negara-negara tersebut. Banyaknya jumlah masyarakat sedangkan sedikitnya pasokan makanan menyebabkan harga terus melambung naik. Inilah salah satu hal yang menyebabkan inflasi. Nilai uang semakin rendah, uang sepuluh ribu yang dulunya bisa membeli banyak bahan makanan, tapi sekarang untuk membeli sekilo beras pun tidak bisa. Masyarakat semakin resah. Akhirnya untuk menghindari peningkatan harga yang tinggi, pemerintah mengambil kebijakan impor bahan baku makanan (dengan tujuan jika stok banyak maka harga akan kembali stabil), mulai dari mengimpor makanan pokok sampai mengimpor daging sapi yang akhirnya berujung di KPK.
Kebijakan pemerintah tidak bisa selalu kita anggap buruk. Saya yakin dan percaya apapun yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah upaya untuk membantu seluruh lapisan masyarakat dan menjawab tuntutan mereka terutama pada bidang ekonomi. Bahkan saya mengakui kehebatan mereka terutama dalam memenangkan pemilu, itu merupakan hal yang hebat bisa menarik banyak jumlah masyarakat untuk mencoblos gambar mereka. Namun, sepertinya mereka masih memerlukan ide tambahan dari lapisan masyarakat untuk menjawab persoalan yang ada terutama terhadap bidang yang tidak dikuasainya. Salah satu kebijakan yang akan dianalisa disini yaitu tentang kebijakan penentuan UMR (upah minimum regional).
UMR merupakan tuntutan buruh yang ditentukan oleh pemerintah dan disahkan oleh gubernur. Walaupun penetuan UMR berasal dari analisa harga kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya, jika penentuan UMR yang terlampau tinggi maka akan mempengaruhi inflasi. Saya berikan ilustrasi sebagai berikut, ketika ada seorang gubernur menetapkan UMR misalnya dari yang sebelumnya Rp. 1,5 juta menjadi Rp.2 juta maka selisih kenaikannya adalah Rp. 500rb. Jika Perusahaan tersebut memiliki 100 orang karyawan maka tambahan jumlah yang perlu dikeluarkan perusahaan adalah 100 orang x Rp. 500rb = Rp. 50 juta. Maka untuk menstabilkan pengeluaran tersebut kebanyakan perusahaan mengambil keputusan menaikkan harga hasil produksinya. Makanya tidak mengejutkan jika UMR naik maka harga barang-barang juga ikutan naik. Lagi-lagi ini mengena kearah inflasi. Saya kasih contoh, tahun lalu saya sering kesupermarket untuk membeli sebungkus biskuit, biasanya harganya sekitar 5 ribuan, namun setelah penetapan kenaikan UMR, sebulan kemudian hampir semua produk yang dijual disupermarket itu mengalami kenaikan. Biskuit yang biasanya saya beli dengan harga sekitar 5ribuan harga kini sudah menjadi 7ribuan. Saya tidak terkejut karena saya yakin pemilik supermarket menaikkan harga karena gaji karyawannya naik, dan modal barang-barang yang jualnya juga naik karena karyawan dimana produk itu diproduksi juga mengalami kenaikan gaji. Namun sayangnya kenaikan ini seolah tidak adil. Tidak semua lapisan masyarakat bekerja di perusahaan atau yang sejenisnya, malahan banyak dari mereka yang berwiraswasta dan tidak ada mengalami peningkatan gaji tetap tetapi ikut merasakan dampak inflasi akibat kebijakan pemerintah tersebut. Belum lagi para orang tua yang memiliki anak yang masih bersekolah malah menuntut kenaikan jajan karena harga jajanan disekolahnya pun mengalami kenaikan. Akhirnya, akibat dampak inflasi ini, anak-anak Indonesia saja sudah merasakannya.
Hal yang lain yang mempengaruhi inflasi adalah kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Tidak bisa dipungkiri bahwa kenaikan harga BBM dapat mengakibatkan kenaikan harga barang karena alur distribusi hampir keseluruhan barang tergantung oleh transportasi, sedangkan transportasi pasti tergantung oleh bahan bakar. Bahkan kenaikan harga bahan bakar pun bisa menaikkan tarif listrik, kenaikkan harga yang saling berkaitan ini tentu saja menekan nilai rupiah dan meresahkan masyarakat. Terlebih lagi, BBM berasal dari sumber daya yang ‘tidak bisa diperbaharui’. Maksud dari kata ‘tidak bisa diperbaharui’ ini adalah karena bahan bakar berasal dari endapan fosil zaman purba dalam perut bumi yang yang proses pembuatannya memakan waktu hingga jutaan tahun (menurut teori yang dipercaya oleh ahli). Sehingga,  tingginya tuntutan terhadap minyak bumi yang semakin hari semakin naik sedangkan pasokan di dalam perut bumi semakin menipis menjadikan harga BBM melambung tanpa mengenal toleransi, bahkan di beberapa negara lain harga minyak bensin saja sekitar 20 ribu rupiah per liternya. Walaupun para ahli sudah berupaya melakukan riset energi alternatif (mulai dari kotoran sapi, ampas tebu, dll) tapi tampaknya belum ada yang dianggap penghasil energi sekuat energi yang dihasilkan minyak bumi, terlebih lagi sebagai energi yang cukup untuk memasok kebutuhan milyaran penduduk dunia. Sekalipun ada, energi alternatif yang diprediksi dan sedang diteliti oleh para ilmuwan negara maju—yakni fuel cell—tetapi tetap saja belum bisa menggantikan peran BBM yang stoknya kian hari kian menipis.
Sebenarnya banyak hal lain yang menyebabkan inflasi, bahkan saya pernah membaca ada sebuah negara yang mengalami inflasi hingga beberapa persen hanya karena kenaikan harga rokok (bisa jadi karena tingginya angka perokok dinegara tersebut). Ada juga hal lain yang mendongkrak inflasi misalnya gagal panen, bencana alam, perperangan, kelangkaan bahan baku dan lain sebagainya. Selain itu, tren dimasyarakat Indonesia yang malu menjadi ahli pertanian menjadikan universitas pertanian sedikit diminati (tidak seperti zaman presiden Soeharto yang berhasil mengangkat pertanian Indonesia bahkan ada lagu yang populer diciptakan untuk profesi tani yang sudah tidak diajarkan di sekolahan pada zaman sekarang ini ). Masyarakat lebih suka anak mereka menjadi pegawai atau profesi kantoran lainnya. Padahal, jika dikaji secara pendapatan finansial, banyak juga para petani yang pendapatannya lebih tinggi dari pada para karyawan/pegawai.  Dan satu hal yang harus dipahami adalah bahwa semua makhluk tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama tanpa makanan, jangan kan manusia bahkan binatang pun juga tidak akan bisa.
Mungkin sebagian besar anda mengatakan bahwa inflasi bukan urusan anda, atau bisa jadi anda mengatakan bahwa permasalah inflasi itu sepenuhnya adalah tanggung jawab pemerintah. Tapi yang perlu anda ingat seandaikan anda menyimpan uang dibank hari ini sebanyak 50 juta rupiah, bisa dibayangkan bahwa uang yang anda disimpan itu nilainya sudah tidak akan sama lagi sepuluh tahun kemudian. Kenapa kita harus peduli? Karena kita semua ingin menyimpan uang untuk masa tua, namun alangkah menyedihkan jika uang yang selama ini dengan susah payah dikumpulkan  pada akhirnya nilainya akan semakin menurun. Terlebih lagi, jika pemerintah gagal menekan lajunya inflasi, maka dengan rendahnya nilai simpanan anda maka akan sangat mengecewakan anda juga nantinya. Jadi, sebelum hal itu terjadi pada kita semua, ada baiknya jika kita mendorong dan mendukung upaya pemerintah dalam hal peningkatan hasil pangan, stabilitas ekonomi serta kritis atau memberi solusi dan saran yang terbaik kepada para pemerintah kita, untuk kita, masa depan kita dan masa depan anak cucu kita. Sehingga dengan keseimbangan nilai mata uang diharapkan akan menyembangkan ekonomi di kehidupan masyarakat kita.

Ditulis di Pekanbaru, 21 Juli 2014.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar